Rabu, 07 Oktober 2015

mendongeng, tema gadis buta dan lumpuh



GADIS BUTA, TULI, BISU DAN LUMPUH

post by : Kang Nawa on Oktober, 08 - 2015


Seorang pemuda pengembara nampak keletihan, dia mencari pohon yang rindang untuk berteduh. Di bawah pohon di tepi sungai dia melepaskan lelah sambil menahan haus dan lapar.
Pemuda itu melepaskan pandangan pada air sungai yang jernih, matanya dikejap-kejapkan, seakan tak percaya. Dia melihat ada buah apel yang hanyut rasa laparnya membuatnya segera berjingkrat meraih buah apel yang hanyut melintas di depan dia berteduh.
“Hups . . . Kres, kres . . Kress, hmmm enaaak, seger. . .  Alhamdulillah” pemuda itu sejenak terdiam dilihatnya buah apel ditangannya sudah tiga gigitan. “Astaghfirullah. . . .” dia tidak melanjutkan memakan buah apel.
“Astaghfirullah “ pemuda itu beristigfar berulang-ulang seakan menyadari suatu kesalahan yang telah diperbuat. “mengapa saya makan buah apel yang bukan milikku? Aku harus mencari siapa pemilik buah apel ini”
Segera saja pemuda itu berjalan menyusuri sungai, berharap menemukan pemilik buah apel yang telah dia makan. Setelah beberapa saat dia berjalan, kemudian dia berhenti pada sebuah kebun yang ditumbuhi pohon apel. “Pasti dari kebun ini apel itu jatuh” gumamnya.
“Assalamu’alaikum. . . “ pemuda itu menyapa seorang laki-laki yang berada di kebun itu “Wa’alaikum salam”, “Maaf pak, apakah bapak pemilik kebun ini?” tanya si pemuda. “O... bukan, saya hanya penjaga kebun” kata laki-laki itu. “kalau begitu bolehkah bapak mengantar saya kepada pemilik kebun ini”, “Baik, mari ikut saya!”
Sesampaikan di rumah pemilik kebun, pemuda itu mengucapkan salam sambil berkata “Tuan maafkan saya, karena saya makan buah apel tuan yang saya temukan hanyut di sungai”.
Pemilik kebun itu pun terheran-heran karena dia tidak menyangka ada seorang pemuda yang jujur. Sejenak pemilik kebun terdiam kemudian berkata “Baik anak muda saya maafkan kesalahanmu, tapi dengan satu syarat . . . “, “Apa tuan? Saya akan penuhi syarat itu asal tuan mema’afkan saya” ujar pemuda itu.
“kamu akan saya ma’afkan asal kamu mau mengawini anak gadis saya”. “Hah, apa tuan?” pemuda itu terkejut, mengepa dia berbuat salah tapi justru disuruh mengawini anak gadis pemilik kebun itu.
“Wahai pemuda. . . Kamu jangan kaget bila nanti menemui istrimu. . . Karena anak gadisku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh!” Pemuda itu terkejut bukan kepalang dia tidak dapat membayangkan istrinya buta, tuli, bisu, dan lumpuh, tapi demi menebus kesalahannya dia mau mengawini anak pemilik kebun itu.
Alkisah. . . diadakanlah pesta pernikan. Saatnya si pemuda menemani istrinya di kamar pangantin. Setelah masuk betapa terkejutnya si pemuda “tidak. . . tidak. . . ini bidadari bukan istriku, karena istriku buta, tuli, bisu, dan lumpuh! Ditengah kebingungan pemilik kebun yang sekarang menjadi bapak mertuanya masuk.” Jangan kaget anakku ini memang istrimu” karena yang kumaksud dengan buta adalah matanya tidak pernah melihat yang porno, tuli telinganya tidak pernah mendengar pembicaraan kotor, bisu karena mulutnya selalu berkata benar, dan lumpuh kaki dan tanganya tidak pernah melakukan kemaksiatan!
Betapa bahagianya si pemuda. Itulah balasan bagi orang yang jujur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar