GADIS
BUTA, TULI, BISU DAN LUMPUH
post by : Kang Nawa on Oktober, 08 - 2015
Seorang
pemuda pengembara nampak keletihan, dia mencari pohon yang rindang untuk
berteduh. Di bawah pohon di tepi sungai dia melepaskan lelah sambil menahan
haus dan lapar.
Pemuda
itu melepaskan pandangan pada air sungai yang jernih, matanya dikejap-kejapkan,
seakan tak percaya. Dia melihat ada buah apel yang hanyut rasa laparnya
membuatnya segera berjingkrat meraih buah apel yang hanyut melintas di depan
dia berteduh.
“Hups .
. . Kres, kres . . Kress, hmmm enaaak, seger. . . Alhamdulillah” pemuda itu sejenak terdiam
dilihatnya buah apel ditangannya sudah tiga gigitan. “Astaghfirullah. . . .”
dia tidak melanjutkan memakan buah apel.
“Astaghfirullah
“ pemuda itu beristigfar berulang-ulang seakan menyadari suatu kesalahan yang
telah diperbuat. “mengapa saya makan buah apel yang bukan milikku? Aku harus
mencari siapa pemilik buah apel ini”
Segera
saja pemuda itu berjalan menyusuri sungai, berharap menemukan pemilik buah apel
yang telah dia makan. Setelah beberapa saat dia berjalan, kemudian dia berhenti
pada sebuah kebun yang ditumbuhi pohon apel. “Pasti dari kebun ini apel itu
jatuh” gumamnya.
“Assalamu’alaikum.
. . “ pemuda itu menyapa seorang laki-laki yang berada di kebun itu “Wa’alaikum
salam”, “Maaf pak, apakah bapak pemilik kebun ini?” tanya si pemuda. “O...
bukan, saya hanya penjaga kebun” kata laki-laki itu. “kalau begitu bolehkah
bapak mengantar saya kepada pemilik kebun ini”, “Baik, mari ikut saya!”
Sesampaikan
di rumah pemilik kebun, pemuda itu mengucapkan salam sambil berkata “Tuan
maafkan saya, karena saya makan buah apel tuan yang saya temukan hanyut di
sungai”.
Pemilik
kebun itu pun terheran-heran karena dia tidak menyangka ada seorang pemuda yang
jujur. Sejenak pemilik kebun terdiam kemudian berkata “Baik anak muda saya
maafkan kesalahanmu, tapi dengan satu syarat . . . “, “Apa tuan? Saya akan
penuhi syarat itu asal tuan mema’afkan saya” ujar pemuda itu.
“kamu
akan saya ma’afkan asal kamu mau mengawini anak gadis saya”. “Hah, apa tuan?”
pemuda itu terkejut, mengepa dia berbuat salah tapi justru disuruh mengawini
anak gadis pemilik kebun itu.
“Wahai
pemuda. . . Kamu jangan kaget bila nanti menemui istrimu. . . Karena anak
gadisku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh!” Pemuda itu terkejut bukan kepalang
dia tidak dapat membayangkan istrinya buta, tuli, bisu, dan lumpuh, tapi demi
menebus kesalahannya dia mau mengawini anak pemilik kebun itu.
Alkisah.
. . diadakanlah pesta pernikan. Saatnya si pemuda menemani istrinya di kamar
pangantin. Setelah masuk betapa terkejutnya si pemuda “tidak. . . tidak. . .
ini bidadari bukan istriku, karena istriku buta, tuli, bisu, dan lumpuh!
Ditengah kebingungan pemilik kebun yang sekarang menjadi bapak mertuanya
masuk.” Jangan kaget anakku ini memang istrimu” karena yang kumaksud dengan buta
adalah matanya tidak pernah melihat yang porno, tuli telinganya tidak pernah
mendengar pembicaraan kotor, bisu karena mulutnya selalu berkata benar, dan
lumpuh kaki dan tanganya tidak pernah melakukan kemaksiatan!
Betapa
bahagianya si pemuda. Itulah balasan bagi orang yang jujur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar