Rabu, 07 Oktober 2015

mendongeng asal mula suku baduy Rangkas bitung - banten



Mendongeng
Asal Mula Suku Baduy
Oleh: Kang Nawa
Disuatu sore di sebuah desa di kerajaan pajajaran ada dua orang bapak-bapak ki Caisah dan ki Hapit terlibat perbincangan yanag serius sesekali wajah mereka namapak ketakutan “ki Hapit” ki Caiah berseru keadaan kita semakin genting peperangan antara pajajaran dan kerajaan islam banten tak terelakkan. Kita harus segera menyelamatkan diri dan tidak perlu terlibat peperangan.” Ki Hapit manguk-manguk, “lantas kemana kita akan pergi ki caisah” . “kemana saja,.. ke barat, ke selatan, ke utara yang penting kita aman.” Akhirnya mereka bersepakat bahwa besok mereka dan keluarga masing-masing memulai pencarian tempat permukiman baru yang jauh dari peperangan.
“ ki Caisah……………………… sudahlah kita sudah jauh berjalan mengapa tidak berhenti saja beristirahat disini.” Kata ki Hapit pada keesokan hari dalam perjalanan mereka mencari permukiman baru. “ ya, sudah kita istirahat sebentar disini mengisi perut. Beberapa saat ki Hapit berdiri seraya berkata “ ki Caisah bagaimana kalau kita berhenti disini saja menmbangun gubuk tempat tinggal” sesaat ki caisah memandang sekeliling terlihat hamparan hijau gunung, berbukitan, hutan dan sungai yang memanjang mengalirkan air yang jernih sambil tersenyum ki Caisah berkata  “sepertinya tempat ini cocok untuk kita, baiklah kalau begitu kita mulai membuat gubuk.
Setelah berhari-hari mereka bergotong ronyong, bahu membahu menebang hutan membuat pasak-pasak gubuk akhirnya berdirilah beberapa gubuk sederhara tetapi layak untuk ia tempati ki Caisah beserta rombongannya.
Disela-sela istirahat setelah beberapa hari mereka bekerja keras membangun gubuk, tiba-tiba terdengar suara tawa yang semakin lama semakin keras “ha….ha…ha…” ki Caisah dan ki Hapit berpandangan, “suara itu jelas bukan suara manusia biasa” ujar ki Hapit. “ha…ha….ha…” “benar!” jawab ki Caisah sambil menghunuskan senjata kujang ke arah sumber suara “huss…” seorang raksasaa dihadapan mereka “hai…. Manusia kalian dilarang tinggal disini, karena ini adalah tempat para raksasa, dan disini adalah inti bumi” tapi  fikir panjang ki Caisah menghujamkan kujangnya ke arah raksasa seketika terjungkallah raksasa itu. “bagus…. Tidak ada lagi pengganggu dan kita pilih tempat ini yang merupakan inti bumi, sebagai tempat tinggal kita”. Kata ki Caisah kepada rombongannya, yang merupakan mantan prajurit pajajaran.
Dengan hutan yang masih lebat, gunung dan ngarai serta sungai-sungai yang mengalirkan air jernih mereka mencoba memulai hidup baru. Jauh dari pertempuran antara pajajaran dan banten. Sebagian mereka adalah mantan prajurit pajajaran yang memilih mundur dari peperangan karena melihat kekuatan pasukan kesultanann banten dibantu pasukan dari Cirebon dapat mengalahkan pajajaran.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun akhirnya, mereka pun bertambah maka selain Ciekeusik, mereka memperluas desa ada Cibeo, Kenekes, dan sebagainya. Mereka hidup dengan aturan sendiri, bagi siapa yang melanggar aturan maka mereka dipersilahkan keluar jauh dari kampong asal. Maka sejak itu mereka terbagi dua, bagi yang taat pada aturan sesuai keyakinan mereka tinggal di kejeroan dan bagi yag melanggar adat istiadat  mereka keluar dan dinamakan panamping.
Pada suatu hari penduduk terlihat saling berbisik-bisik  membicarakan sesuatu yang nampak rahasia, ada desas desus bahwa di kejeroan dan di panamping ada orang asing dating menjadi mata-mata. Arji dan pamannya pun membicarakan hal itu. “apa betul paman ada mata-mata masuk ke kampung kita?” Tanya arji. “begitulah kata penduduk , arjil” “terus apa maksud mereka ? apa mereka dari pajajaran paman?” “bukan, katanya utusan dari keratin surosuwan, semoga saja mereka tidak hendak menyerang kita, karena kita adalah orang yang cinta damai”. Demikian paman arji menjelaskan kepada ponakannya arji.
“Bagaimana hasil penyelidikanmu udin?” Tanya Senopati Jalatunda, “Alhamdulillah sudah tuan, semua berjalan baik !” “apa kesimpulanmu udin?” “mereka bukan pasukan pajajaran mereka adalah para pengungsi yang menghindari peperangan , disana mereka hidup dengan tata cara sendiri tuan…” senopati jalatunda manggut-manggut menjelaskan penjelasan udin. “terus !” “mereka terbagi dalam dua kelompok masyarakat ada kelompok kejeroan, tinggal lebih dalam ke hutan dan sangat kuat memegang adat dan peraturannya, tapi cenderung tertutup, yang kedua kelompok panamping mereka sedikit longgar dan lebih terbuka pada masyarakat lain” “lanjutkan udin ceritamu”  “ ya tuan senopati….” “mereka mempunyai kepercayaan sendiri yaitu kepercayaan sunda wiwitan, yang mempercayai leluhur dan kekuatan makhluk halus lainnya, mereka adalah orang-orang yang tidak berbahaya bagi kerejaan banten !”
Keesokan harinya Senopati Jalatunda ditemani mang udin menaiki kuda datang ke pemukiman penduduk yang berada di selatan kesultanan banten. Terlihat disana pemandangan yang mengejutkan “udin itu sungai yang ada diperkampugan namanya sungai apa?” “oh…. Itu sungai cibaduy tuan !” baiklah kalau begitu bagaimana kalau kita sebut penduduk disana kita namakan suku baduy ? yang berarti penduduk sekitar sungai baduy” “hmmm… cocok tuan… baduy juga seperti orang arab gunung yang tinggal jauh dari penduduk perkotaan.”
Maka sejak itu masyarakat pengungsi dari pajajaran tersbut dikenal dengan sebutan suku baduy.
Demikian dongeng asal – usul suku baduy di propinsi Banten.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar