Mendongeng
Asal Mula Suku Baduy
Oleh: Kang Nawa
Disuatu
sore di sebuah desa di kerajaan pajajaran ada dua orang bapak-bapak ki Caisah dan
ki Hapit terlibat perbincangan yanag serius sesekali wajah mereka namapak
ketakutan “ki Hapit” ki Caiah berseru keadaan kita semakin genting peperangan
antara pajajaran dan kerajaan islam banten tak terelakkan. Kita harus segera
menyelamatkan diri dan tidak perlu terlibat peperangan.” Ki Hapit manguk-manguk,
“lantas kemana kita akan pergi ki caisah” . “kemana saja,.. ke barat, ke
selatan, ke utara yang penting kita aman.” Akhirnya mereka bersepakat bahwa
besok mereka dan keluarga masing-masing memulai pencarian tempat permukiman
baru yang jauh dari peperangan.
“
ki Caisah……………………… sudahlah kita sudah jauh berjalan mengapa tidak berhenti
saja beristirahat disini.” Kata ki Hapit pada keesokan hari dalam perjalanan
mereka mencari permukiman baru. “ ya, sudah kita istirahat sebentar disini
mengisi perut. Beberapa saat ki Hapit berdiri seraya berkata “ ki Caisah bagaimana
kalau kita berhenti disini saja menmbangun gubuk tempat tinggal” sesaat ki
caisah memandang sekeliling terlihat hamparan hijau gunung, berbukitan, hutan
dan sungai yang memanjang mengalirkan air yang jernih sambil tersenyum ki Caisah
berkata “sepertinya tempat ini cocok
untuk kita, baiklah kalau begitu kita mulai membuat gubuk.
Setelah
berhari-hari mereka bergotong ronyong, bahu membahu menebang hutan membuat
pasak-pasak gubuk akhirnya berdirilah beberapa gubuk sederhara tetapi layak
untuk ia tempati ki Caisah beserta rombongannya.
Disela-sela
istirahat setelah beberapa hari mereka bekerja keras membangun gubuk, tiba-tiba
terdengar suara tawa yang semakin lama semakin keras “ha….ha…ha…” ki Caisah dan
ki Hapit berpandangan, “suara itu jelas bukan suara manusia biasa” ujar ki Hapit.
“ha…ha….ha…” “benar!” jawab ki Caisah sambil menghunuskan senjata kujang ke
arah sumber suara “huss…” seorang raksasaa dihadapan mereka “hai…. Manusia
kalian dilarang tinggal disini, karena ini adalah tempat para raksasa, dan
disini adalah inti bumi” tapi fikir
panjang ki Caisah menghujamkan kujangnya ke arah raksasa seketika terjungkallah
raksasa itu. “bagus…. Tidak ada lagi pengganggu dan kita pilih tempat ini yang
merupakan inti bumi, sebagai tempat tinggal kita”. Kata ki Caisah kepada
rombongannya, yang merupakan mantan prajurit pajajaran.
Dengan
hutan yang masih lebat, gunung dan ngarai serta sungai-sungai yang mengalirkan
air jernih mereka mencoba memulai hidup baru. Jauh dari pertempuran antara
pajajaran dan banten. Sebagian mereka adalah mantan prajurit pajajaran yang
memilih mundur dari peperangan karena melihat kekuatan pasukan kesultanann
banten dibantu pasukan dari Cirebon dapat mengalahkan pajajaran.
Hari
berganti bulan, bulan berganti tahun akhirnya, mereka pun bertambah maka selain
Ciekeusik, mereka memperluas desa ada Cibeo, Kenekes, dan sebagainya. Mereka
hidup dengan aturan sendiri, bagi siapa yang melanggar aturan maka mereka
dipersilahkan keluar jauh dari kampong asal. Maka sejak itu mereka terbagi dua,
bagi yang taat pada aturan sesuai keyakinan mereka tinggal di kejeroan dan bagi
yag melanggar adat istiadat mereka
keluar dan dinamakan panamping.
Pada
suatu hari penduduk terlihat saling berbisik-bisik membicarakan sesuatu yang nampak rahasia, ada
desas desus bahwa di kejeroan dan di panamping ada orang asing dating menjadi
mata-mata. Arji dan pamannya pun membicarakan hal itu. “apa betul paman ada
mata-mata masuk ke kampung kita?” Tanya arji. “begitulah kata penduduk , arjil”
“terus apa maksud mereka ? apa mereka dari pajajaran paman?” “bukan, katanya
utusan dari keratin surosuwan, semoga saja mereka tidak hendak menyerang kita,
karena kita adalah orang yang cinta damai”. Demikian paman arji menjelaskan
kepada ponakannya arji.
“Bagaimana
hasil penyelidikanmu udin?” Tanya Senopati Jalatunda, “Alhamdulillah sudah
tuan, semua berjalan baik !” “apa kesimpulanmu udin?” “mereka bukan pasukan
pajajaran mereka adalah para pengungsi yang menghindari peperangan , disana
mereka hidup dengan tata cara sendiri tuan…” senopati jalatunda manggut-manggut
menjelaskan penjelasan udin. “terus !” “mereka terbagi dalam dua kelompok
masyarakat ada kelompok kejeroan, tinggal lebih dalam ke hutan dan sangat kuat
memegang adat dan peraturannya, tapi cenderung tertutup, yang kedua kelompok
panamping mereka sedikit longgar dan lebih terbuka pada masyarakat lain”
“lanjutkan udin ceritamu” “ ya tuan
senopati….” “mereka mempunyai kepercayaan sendiri yaitu kepercayaan sunda wiwitan,
yang mempercayai leluhur dan kekuatan makhluk halus lainnya, mereka adalah
orang-orang yang tidak berbahaya bagi kerejaan banten !”
Keesokan
harinya Senopati Jalatunda ditemani mang udin menaiki kuda datang ke pemukiman
penduduk yang berada di selatan kesultanan banten. Terlihat disana pemandangan
yang mengejutkan “udin itu sungai yang ada diperkampugan namanya sungai apa?”
“oh…. Itu sungai cibaduy tuan !” baiklah kalau begitu bagaimana kalau kita
sebut penduduk disana kita namakan suku baduy ? yang berarti penduduk sekitar
sungai baduy” “hmmm… cocok tuan… baduy juga seperti orang arab gunung yang
tinggal jauh dari penduduk perkotaan.”
Maka
sejak itu masyarakat pengungsi dari pajajaran tersbut dikenal dengan sebutan
suku baduy.
Demikian
dongeng asal – usul suku baduy di propinsi Banten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar